Selama pandemi virus Corona (COVID-19) yang melanda Indonesia dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang ketat beberapa bulan lalu, banyak masyarakat yang harus di rumah saja dan tidak ke mana-mana. Bahkan, aktivitas bekerja pun dilakukan di rumah saja.

Karena pembatasan aktivitas itu, masyarakat yang biasanya beraktivitas menggunakan mobil harus mengurangi mobilitasnya. Alhasil, mobil pun cukup lama berdiam diri di garasi. Saat digunakan kembali, apakah mobil perlu diganti oli lagi?

Meski tidak dipakai dan cenderung beristirahat, bukan berarti kita jadi lupa dan lalai soal perawatan berkala. Mobil dan motor juga mesti tetap dirawat agar tetap bisa berfungsi optimal. Pengecekan wajib yang mesti dilakukan misalnya tegangan aki, kondisi tekanan angin ban, dan kondisi pelumas. Meski kendaraan tidak dioperasikan normal atau cenderung statis, ternyata kondisi pelumas juga bisa mengalami penurunan kualitas.

Jika merujuk ke buku manual kendaraan, pasti tertulis periode penggantian oli dalam jarak tempuh kilometer atau satuan waktu yang biasanya bulan. Tertulis mana yang tercapai lebih dahulu. Itu jadi patokan awal, kenapa oli meski tetap diganti meski kendaraan tidak dipakai.

Ada potensi terjadinya kondensasi di mesin kendaraan. Kondensasi tersebut menurunkan kualitas pelumas kendaraan.

Kondensasi adalah munculnya uap air akibat perbedaan suhu udara siang dan malam. Jika uap air itu ikut larut dalam pelumas, nilai kekentalan atau viskositas akan turun.

Apa itu VISKOSITAS ? Viskositas adalah nilai kekentalan oli. Nilai ini disimbolkan dengan angka. Semakin tinggi angkanya, semakin kental olinya.Oli yang beredar di pasar tersedia dalam dua jenis tingkat kekentalan. Kekentalan tetap atau single-grade dan kekentalan dinamis atau multi-grade.

Jika viskositas sudah berubah, otomatis kemampuannya dalam melumasi komponen jadi tidak maksimal. Itulah sebabnya kita tetap harus melakukan penggantian oli secara berkala meski kendaraan tidak dipakai.