Pengemudi masih banyak yang salah kaprah terkait penggunaan lampu hazard, terutama ketika berkendara di bawah guyuran hujan. Alih-alih ingin memberikan penanda atau sinyal pada pengemudi lain, justru kebiasaan ini membahayakan dan kebiasaan yang salah kaprah

Ketika hujan tidak disarankan menyalakan lampu hazard. karena prinsipnya lampu hazard hanya diaktifkan pada saat kondisi darurat. Sementara hujan bukan kondisi darurat. Dan kalo dari katanya “ HAZARD “ yang artinya dalam Bahasa Indonesia adalah BAHAYA

Bila memang pengemudi menganggap hujan tersebut adalah kondisi darurat. Lebih disarankan kepada pengemudi untuk menepi sejenak, tapi pastikan pilih lokasi yang aman dari kendaraan lain.

Lampu hazard sebagai alat komunikasi, saat diaktifkan harus jelas maksud dan arahnya. Contohnya kendaraan berjalan saat hujan, lampu hazard diaktifkan, otomatis membuat pengemudi di belakangnya bingung dan visibilitasnya terganggu.

Lampu itu hanya digunakan pada kondisi statis dan darurat. Saat hujan lebat, otomatis visibilitas berkendara akan berkurang, ditambah dengan mobil depan menyalakan hazard, lampu yang terus menerus menyala membuat pengendara di belakang justru silau dan bingung, akibatnya potensi kecelakaan bisa terjadi.

Lampu hazard seharusnya berada di titik atas level mata. Maka dari itu, ketika hazard digunakan saat mobil melaju, titik garis mata akan berpindah ke bawah.Karena mengapa? pancaran sinar lampu di bawah level mata akan mengganggu visibilitas pengendara lain. Berangkat dari sini, ada aturan lalu lintas yang mengaturnya.

Aturan Soal Penggunaan Hazard

Penggunaan hazard sendiri sebenarnya sudah tertuang jelas dalam UU No 22 Tahun 2009 tentang LLAJ, Pasal 121 ayat 1 yang berbunyi “Setiap pengemudi kendaraan bermotor wajib memasang segitiga pengaman, lampu isyarat peringatan bahaya, atau isyarat lain pada saat berhenti atau parkir dalam keadaan darurat di jalan,”.

Sementara itu, agar kebiasaan salah ini bisa dihilangkan disarankan harus dimulai dari pembelajaran usia dini.

SEMOGA BERMANFAAT